Thursday, January 28, 2010

The History of Valentine's Day

The History of Valentine's Day

Every February, across the country, candy, flowers, and gifts are exchanged between loved ones, all in the name of St. Valentine. But who is this mysterious saint and why do we celebrate this holiday? The history of Valentine's Day — and its patron saint — is shrouded in mystery. But we do know that February has long been a month of romance. St. Valentine's Day, as we know it today, contains vestiges of both Christian and ancient Roman tradition. So, who was Saint Valentine and how did he become associated with this ancient rite? Today, the Catholic Church recognizes at least three different saints named Valentine or Valentinus, all of whom were martyred.

One legend contends that Valentine was a priest who served during the third century in Rome. When Emperor Claudius II decided that single men made better soldiers than those with wives and families, he outlawed marriage for young men — his crop of potential soldiers. Valentine, realizing the injustice of the decree, defied Claudius and continued to perform marriages for young lovers in secret. When Valentine's actions were discovered, Claudius ordered that he be put to death.

A picture of Cupid.

Video: Who is St. Valentine? Why do we celebrate on February 14? Watch the HISTORY OF VALENTINE'S DAY.

Video: From the first mail-posted Valentine on record in 1806 to some of the precursors to today's Valentines, Watch VALENTINE'S CARDS on history.

Video: He's a 3,000 year-old baby with wings, he shoots love-tipped arrows into unsuspecting people, and his name is Cupid: The God of Love.

Other stories suggest that Valentine may have been killed for attempting to help Christians escape harsh Roman prisons where they were often beaten and tortured.

According to one legend, Valentine actually sent the first 'valentine' greeting himself. While in prison, it is believed that Valentine fell in love with a young girl — who may have been his jailor's daughter — who visited him during his confinement. Before his death, it is alleged that he wrote her a letter, which he signed 'From your Valentine,' an expression that is still in use today. Although the truth behind the Valentine legends is murky, the stories certainly emphasize his appeal as a sympathetic, heroic, and, most importantly, romantic figure. It's no surprise that by the Middle Ages, Valentine was one of the most popular saints in England and France.

While some believe that Valentine's Day is celebrated in the middle of February to commemorate the anniversary of Valentine's death or burial — which probably occurred around 270 A.D — others claim that the Christian church may have decided to celebrate Valentine's feast day in the middle of February in an effort to 'christianize' celebrations of the pagan Lupercalia festival. In ancient Rome, February was the official beginning of spring and was considered a time for purification. Houses were ritually cleansed by sweeping them out and then sprinkling salt and a type of wheat called spelt throughout their interiors. Lupercalia, which began at the ides of February, February 15, was a fertility festival dedicated to Faunus, the Roman god of agriculture, as well as to the Roman founders Romulus and Remus.



Monday, January 4, 2010

Alasan TEPAT Untuk MENIKAH







Pernikahan adalah sebuah keputusan besar dalam hidup Anda. Mengambil keputusan untuk mengakhiri kesendirian melalui pernikahan memang bukan keputusan yang mudah. Banyak hal yang harus dipertimbangkan secara matang. Salah satunya adalah kesamaan pandangan. Dengan menikah, jalinan cinta kasih akan tumbuh semakin kuat dan menimbulkan perasaan nyaman dan tenang. Dengan memiliki alasan yang tepat untuk menikah, perkawinan Anda pasti akan membawa kebahagiaan.

1. Menerima Dia Apa Adanya

Menikah karena harta atau uang gara-gara Anda takut hidup sengsara adalah alasan yang buruk. Materi memang perlu, tapi jika harta atau uang adalah dasar Anda menikahi seseorang, sebaiknya dipikirkan kembali. Apa artinya hidup bergelimang harta tanpa adanya cinta. Harta dapat pergi kapan saja. Begitu pula dengan cinta yang tumbuh karena harta. Tapi cinta sejati tetap tinggal di hati dan menjaga cinta Anda berdua, meski si dia tak masuk dalam kategori orang terkaya di dunia. Cintai dia apa adanya, karena jika ditanya, Anda pasti ingin mendapat perlakuan serupa.


2. Membahagiakan Diri Anda

Seorang anak berkewajiban untuk berbakti kepada orangtua atau keluarga. Sekadar memenuhi tuntutan orangtua, menjadi alasan Anda mengajak pasangan menikah. Hal ini antara lain karena orangtuanya sakit keras dan ingin melihat anak hidup bahagia, ingin segera menggendong cucu, atau sudah cocok dengan pasangan Anda. Hei, Andalah yang akan menjalani pernikahan, bukan orang lain. Jika diminta memilih, orangtua pasti lebih suka melihat Anda bahagia daripada hidup merana akibat terburu-buru menikah atau salah memilih pasangan. Apalagi jika alasannya adalah karena ingin membahagiakan mereka.


3. Memahami Beda Antara Cinta dengan Simpati

Rasa kagum dan simpati merupakan ungkapan perasaan senang kepada seseorang. Tapi jangan diartikan sebagai cinta. Rasa simpati dan kagum jelas berbeda dengan cinta. Cinta perlu diuji dalam suka dan duka serta dengan mata terbuka. Sedangkan simpati dan kagum tidak tahan uji dan tidak akan bertahan lama.


4. Mencintai Kebaikan Hati Pasangan

Kecantikan atau ketampanan terkadang menjadi motivasi seseorang untuk memilih seorang pendamping hidup. Buat apa punya pasangan tampan jika dia gemar membagi hati? Apa gunanya punya kekasih secantik Miss Universe kalau dia sering membuat Anda mengurut dada? Kecantikan dan ketampanan bakal luntur seiring dengan bertambahnya usia. Pilih pasangan yang memiliki kebaikan hati. Itu yang paling utama. Si dia akan tetap setia di sisi Anda meski kerutan di kulit dan uban di kepala muncul seiring bertambahnya usia.

5. Seks Hanya Sebagai Bumbu Penyedap

Wah-wah, jika seks yang jadi alasan Anda menikai seseorang, kemungkinan besar pernikahan itu tak akan bertahan lama. Seks adalah hal yang sakral dan penting dalam hubungan suami-istri. Tetapi jangan jadikan seks sebagai menu utama dalam perkawinan karena ia hanya bertindak sebagai pelengkap. Anda tentu tak mau terjerat dalam kesusahan yang Anda ciptakan sendiri.

Font size

6. Percaya, Segala Sesuatu Ada Waktunya

Meski masih ada sebagian orang yang merasa khawatir jika di usia kepala tiga belum juga menikah, Anda tak akan terpengaruh. Orang-orang di sekitar Anda boleh saja sudah berumah tangga dan mempunyai anak. Tapi Anda akan tetap bersabar hingga Tuhan menuntun orang yang tepat ke depan pintu Anda? Tak perlu menurunkan kriteria pasangan hanya karena Anda ingin segera menikah. Sabar, berdoa, dan percaya bahwa Tuhan sudah menyediakan yang terbaik untuk Anda.


7. Bersikap Masuk Akal

Sebagian besar pasangan suami istri menginginkan keturunan. Tentu tidak mungkin memiliki anak tanpa pasangan. Namun, bukan berarti demi mendapatkan anak, Anda segera menganggukkan kepala ketika seorang jodoh yang tak Anda kenal disodorkan di depan mata. Membesarkan anak adalah tanggung jawab besar. Maka pilihlah pasangan yang mampu membantu dan merawat si buah hati dengan cara yang baik dan benar.

8. Kasih, Bukan Kasihan

Rasa kasihan biasa ada di dalam hati manusia. Tetapi tidak boleh dijadikan alasan Anda untuk menikah.Salah satu dasar sebuah pernikahan yang sehat adalah kasih yang tulus, bukan rasa kasihan.


9. Hidup Tetap Indah Meski Tanpa Si Mantan

Karena sakit hati diputuskan oleh kekasih yang sudah mendapatkan pasangan baru, Anda tidak mau terlihat kalah langkah dan menerima pinangan dari orang pertama yang mengajak Anda menikah. Duh, jangan permainkan masa depan Anda gara-gara dendam semata. Pembalasan dendam yang manis justru dengan memperlihatkan kepadanya, dunia Anda tetap berputar dengan indahnya meski si dia bukan lagi milik Anda. Lagi pula, ini kesempatan Anda untuk menunjukkan pada si dia bahwa Anda siap menerima orang lain yang 1000 kali lebih baik darinya.


10. Diri Anda Bukan Alat Pembayar Utang

Orang yang berbuat baik pada Anda perlu dibalas kebaikannya. Tapi bukan dengan pernikahan. Karena diri Anda bukanlah alat pembayar utang budi. Berpikir dan bersikap bijak dalam hal ini. Anda bisa tetap membalas kebaikan itu dengan cara lain, bukan dengan menikahi orang tersebut.


11. Target Boleh Berlalu

Masih ada beberapa orang yang menargetkan akan menikah di usia tertentu. Jangan khawatir jika saat usia yang ditargetkan tiba tapi Anda belum juga punya pasangan. Jika Anda resah, hal itu justru akan melemahkan semangat Anda untuk menemukan pasangan sejati yang sesuai dengan kriteria Anda. Lebih baik tetap bersikap positif. Jalani hubungan dengan pasangan Anda sambil saling menjajaki dan memantapkan rencana.


*NS*

Sunday, January 3, 2010

~Semua tentang Leukemia~

Mungkin sebagian dari kita mengenal penyakit yang bernama Leukemia (atau bisa juga di sebut kanker darah, sebagian orang yang mendengar penyakit ini mungkin akan merasa takut jika mengidapnya, namun tidak jika kita mengetahuinya secara dini, dan berusaha untuk memberikan terapi, jadi berikut penjelasan mengenai leukemia itu sendiri


Leukemia atau kanker darah adalah sekelompok penyakit neoplastik yang beragam, ditandai oleh perbanyakan secara tak normal atau transformasi maligna dari sel-sel pembentuk darah di sumsum tulang dan jaringan limfoid. Sel-sel normal di dalam sumsum tulang digantikan oleh sel tak normal atau abnormal. Sel abnormal ini keluar dari sumsum dan dapat ditemukan di dalam darah perifer atau darah tepi. Sel leukemia mempengaruhi hematopoiesis atau proses pembentukan sel darah normal dan imunitas tubuh penderita.

Kata leukemia berarti darah putih, karena pada penderita ditemukan banyak sel darah putih sebelum diberi terapi. Sel darah putih yang tampak banyak merupakan sel yang muda, misalnya promielosit. Jumlah yang semakin meninggi ini dapat mengganggu fungsi normal dari sel lainnya.


Klasifikasi

Leukemia dapat diklasifikasikan atas dasar:


Perjalanan alamiah penyakit: akut dan kronis

Leukemia akut ditandai dengan suatu perjalanan penyakit yang sangat cepat, mematikan, dan memburuk. Apabila tidak diobati segera, maka penderita dapat meninggal dalam hitungan minggu hingga hari. Sedangkan leukemia kronis memiliki perjalanan penyakit yang tidak begitu cepat sehingga memiliki harapan hidup yang lebih lama, hingga lebih dari 1 tahun bahkan ada yang mencapai 5 tahun.


Tipe sel predominan yang terlibat: limfoid dan mieloid

Kemudian, penyakit diklasifikasikan dengan jenis sel yang ditemukan pada sediaan darah tepi.


Jumlah leukosit dalam darah

  • Leukemia leukemik, bila jumlah leukosit di dalam darah lebih dari normal, terdapat sel-sel abnormal
  • Leukemia subleukemik, bila jumlah leukosit di dalam darah kurang dari normal, terdapat sel-sel abnormal
  • Leukemia aleukemik, bila jumlah leukosit di dalam darah kurang dari normal, tidak terdapat sel-sel abnormal


Prevalensi empat tipe utama

Dengan mengombinasikan dua klasifikasi pertama, maka leukemia dapat dibagi menjadi:

  • Leukemia limfositik akut (LLA) merupakan tipe leukemia paling sering terjadi pada anak-anak. Penyakit ini juga terdapat pada dewasa yang terutama telah berumur 65 tahun atau lebih
  • Leukemia mielositik akut (LMA) lebih sering terjadi pada dewasa daripada anak-anak.Tipe ini dahulunya disebut leukemia nonlimfositik akut.
  • Leukemia limfositik kronis (LLK) sering diderita oleh orang dewasa yang berumur lebih dari 55 tahun. Kadang-kadang juga diderita oleh dewasa muda, dan hampir tidak ada pada anak-anak
  • Leukemia mielositik kronis (LMK) sering terjadi pada orang dewasa. Dapat juga terjadi pada anak-anak, namun sangat sedikit

Tipe yang sering diderita orang dewasa adalah LMA dan LLK, sedangkan LLA sering terjadi pada anak-anak.


Patogenesis

Leukemia akut dan kronis merupakan suatu bentuk keganasan atau maligna yang muncul dari perbanyakan klonal sel-sel pembentuk sel darah yang tidak terkontrol. Mekanisme kontrol seluler normal mungkin tidak bekerja dengan baik akibat adanya perubahan pada kode genetik yang seharusnya bertanggung jawab atas pengaturan pertubuhan sel dan diferensiasi.

Sel-sel leukemia menjalani waktu daur ulang yang lebih lambat dibandingkan sel normal. Proses pematangan atau maturasi berjalan tidak lengkap dan lanbar dan bertahan hidup lebih lama dibandingkan sel sejenis yang normal.


Etiologi

Penyebab leukemia belum diketahui secara pasti, namun diketahui beberapa faktor yang dapat mempengaruhi frekuensi leukemia, seperti:


Radiasi

Radiasi dapat meningkatkan frekuensi LMA dan LMA. Tidak ada laporan mengenai hubungan antara radiasi dengan LLK. Beberapa laporan yang mendukung:

  • Para pegawai radiologi lebih sering menderita leukemia
  • Penderita dengan radioterapi lebih sering menderita leukemia
  • Leukemia ditemukan pada korban hidup kejadian bom atom Hiroshima dan Nagasaki, Jepang


Faktor leukemogenik

Terdapat beberapa zat kimia yang telah diidentifikasi dapat mempengaruhi frekuensi leukemia:


Epidemiologi


Herediter

Penderita sindrom Down memiliki insidensi leukemia akut 20 kali lebih besar dari orang normal.


Virus

Virus dapat menyebabkan leukemia seperti retrovirus, virus leukemia feline, HTLV-1 pada dewasa.


Leukemia akut


Manifestasi klinik

Manifestasi leukemia akut merupakan akibat dari komplikasi yang terjadi pada neoplasma hematopoetik secara umum. Namun setiap leukemia akut memiliki ciri khasnya masing-masing. Secara garis besar, leukemia akut memiliki 3 tanda utama yaitu:

  • Jumlah sel di perifer yang sangat tinggi, sehingga menyebabkan terjadinya infiltrasi jaringan atau leukostasis
  • Penggantian elemen sumsum tulang normal yang dapat menghasilkan komplikasi sebagai akibat dari anemia, trombositopenia, dan leukopenia
  • Pengeluaran faktor faali yang mengakibatkan komplikasi yang signifikan


Alat diagnosa

Leukemia akut dapat didiagnosa melalui beberapa alat, seperti:


mungkin itu sedikit informasi mengenai leukemia, jangan biarkan diri kita mengidap penyakit ini, kalau bisa lakukanlah medical check up setiap bulannya agar kita sendiri segera mengetahui apa yang terjadi pada tubuh kita, sebelum terlambat

~Regards~

SAHABAT

Engkau selalu hadir menemani ku
Dikala aku senang,
engkau pun ikut senang.
Dikala aku menangis,
engkau memberikan pundakmu,
untuk aku bersandar.
Dikala aku marah,
engkau menenangkanku.
Dikala aku bersedih dan tertekan,
engkau menghiburku.
Dikala aku kehilangan arah,
engkau menuntunku.
Dikala aku terbuang dan sendiri,
engkau selalu hadir untukku.
Dikala aku terjatuh,
engkau menopangku.
Sahabat
Begitu besar arti engkau untuk ku
tanpa engkau aku tak berarti
Sahabat
Engkau kluarga,patner,guru bagiku
Sahabat
Aku sangat menyayangi engkau
LOVERS

untuk semua sahabat2ku,maaf jikalau selama ini aq terkesan cuekdan tidak mempedulikan kalian.Aku memperhatikan dan sayang ma kalian dengan cara aku sendiri.Tak terlintas dibenakku sedikit pun untuk menyakiti kalian.

IT'S MY BEST FRIENDS

Ratih Purnamasari,Sefti Anggraini,Slyvanni seihu,Erwin dwi,Jessica Clestario,Monica Nicole Sandra dewi,Ussy sulistiawaty,Sarah marini,
Diana sanders...

Aku berterima kasih untuk semua kebaikan,perhatian,kasih sayang yang kalian berikan untukku....


by JC


What's your personality?




What's your personality?

Easygoing, positive, creative, cautious, inspiring, loyal?
Learn more about yourself and why you're the way you are.
Your Authentic Self
What’s your personality? Are you generally easy going, friendly, and well liked, but you’re not taken seriously? Are you an authority figure, confident, controlling, with strong belief in yourself? Are you charming, self-sufficient, positive and inspiring? Or would you call yourself loyal and trustworthy, fair, cautious and dependable? Keep going; maybe you’re not who you think you are. Or maybe you’re more than you think you are.
What is Personality?
Personality is the particular habit of mind we use to avoid pain in our lives, and, therefore, to avoid being ourselves. As children we experienced painful feelings in our lives. We learned to adapt our natural behavior to survive and to deal with pain. Now, even though we’re grown-ups, we still live in that defensive attitude of mind, almost in a state of trance, or a self-program, unaware of the true reality of the moment. The more we know about ourselves now, the more we can free ourselves from a subconscious view of life. We do not change our basic personality type over our lifetime, but we can become more conscious of it, and moderate it.
The Nine Personality Types
There are nine basic personality types. Each of the nine types is one human way of dealing with the difficulties of life. We share some qualities from each type as human traits, but the motivation behind our behavior is what determines personality type. No one type is better than any other. Each of the nine types has a reason for doing what they do, which, when understood, brings compassion to our hearts for them. The nine basic personality types are the Perfectionist, The Pleaser, the Performer, the Special One, the Observer, the Safety-Seeker, the Enthusiast, the Boss and the Merger. The purpose of knowing our type ultimately is to help us on the path to freedom from the trance of habituated mind, to see who we really are and to experience reality without these filters.

Personality Type 1. The Perfectionist
In the childhood of the Perfectionists, there was a lot of criticism and judgment. To avoid criticism, they learned to make everything they did perfect. They learned the rules and stuck to them rigidly so that they would not be judged. They learned to delay their own fun in order to make sure they had done things right, so they would not be scolded.

If you want a job done well and thoroughly, give it to a Perfectionist. They are dependable and responsible, often going out of their way to do it right. There would be no mistakes in their lives if they had their way. Of course this is not possible, but Perfectionists try to accomplish this. They are organized ten times over. They delay any pleasure for themselves in order to make sure things are done right. They are very self-critical, worrying about what others may think of them. They expect others to do the same. They tend to resent people who aren’t trying as hard as they are. They also believe that other people want to have things perfect too, so they irritate them with unwelcome advice. As judgmental as they are, they judge themselves even more harshly, often setting impossibly high standards.

With personal growth, the Perfectionists can find that Life is already perfect as it is, the trees grow, the birds sing, without any effort or help from us. Their anger and self-criticism will be replaced with serenity, when they squelch their internal taskmaster and take time to focus on what is really important. Finally, they grow in the knowledge that they are OK as they are. They learn to include relationships and relaxation in their lives.
Personality Type 2. The Pleaser
The Pleasers need approval and recognition. In childhood, their needs were only met if they took care of their parent first. They learned to focus on taking care of others in order to survive themselves. This became a habitual way of acting in the world. The Pleaser projects an image of being helpful, in order to be seen as indispensable and to earn love. The Pleasers take pride in pleasing others, at jumping in before you have even asked. The relationship is what matters to them, and feelings are important in the service of this. Pleasers may force other people into the role of the needy and helpless, and assume they know what’s good for them.

Pleasers are usually well liked and appreciated. But even with their popularity, Pleasers need reassurance. The Pleasers appear to be selfless. But in fact they need others to reciprocate their attention and anticipate their needs. It is an unspoken contract. People can feel manipulated by the Pleaser, especially if they did not ask for the help. The Pleasers will get upset if they don’t get something in return, because they have done all this for you. Pleasers can resent it when they are asked for something because they feel they have already done so much for everyone. They sabotage themselves this way. Other people may love the attention a Pleaser gives, can become very dependent on them, and sometimes take advantage of them.

The Pleaser uses flattery to get attention and approval from others. The Pleaser takes pride in being indispensable to others. When Pleasers mature, they don’t feel the constant need to prove their value and they realize that they are not inexpendible. They will be brave enough to try being themselves, and to experience being loved for who they are.
Personality Type 3. The Performer
In the childhood of the Performers, they were noticed and loved mostly for what they did, not who they were. So they learned to focus outside of themselves on the next task to do to get attention and recognition. In order to be noticed in their family, they had to be the Best to gain approval, and they worked hard to accomplish this. The Performers do this by performing, accomplishing, succeeding, achieving goals, being number One, and being a workaholic.

Performers become goal oriented, efficient, productive, confident, optimistic, focused, tenacious, successful, and accomplished. Examples of Performers include Olympic athletes, corporate managers, sales reps and executive directors.

Performers did not get in touch with their own feelings, or find out who they even were, since no one else was interested. Instead, they learned to project an image of what their loved ones wanted to see. Performers don’t know who they really are behind their projected image, so it’s hard for them to relate to their authentic self. They can’t handle failure. In the extreme, they become vain, deceptive and even cutthroat in order to protect their image.

What helps a Performer grow? The Performers must first challenge their own false image. They must learn to tolerate mistakes and lack of accomplishment. They should accept the idea that people might like them for who they really are, if they are willing to be authentic. When you Performers realize you are good enough just as you are, you can be honest about yourself, and others will respond to this.
Personality Type 4. The Special One
In the childhood of the Special One, there is some kind of abandonment by a care-giving figure, even if it was not done intentionally. The child loses the person they are close to. So they long for that person to return, along with their love and approval. They look critically at themselves, wondering if there was something wrong with them that caused the loved one to leave. Emotionally they are grieving for what is lost. And they envy those around them who still have their loved ones.

Special Ones focus inward on themselves and their feelings. They feel they need to prove to the world that they are special in order to avoid being abandoned again. They often become artists, dancers, painters, singers, and poets to express the depth of their feeling in their art. The Special Ones’ ability to feel deeply also makes them able to sympathize and listen to others who are going through a difficult time.

They are often dramatic in their expression, drawing attention to themselves in order to reassure themselves of their value to others. Unable to believe they are good enough, they are convinced they have something wrong with them. They may cling emotionally to melancholy or depression.

As a Special One, you can grow by being present in the moment, to appreciate what you do have, without longing for what you think is missing. Melancholy and envy of others pulls you down, while your calm and originality can be your strength.
Personality Type 5. The Observer
In the childhood of the Observers, there was some kind of intrusion on their person, which they could not escape. For some it was parental intrusion. For others it was an outside intrusion, such as a long stay in the hospital for extended operations. The result was that the young Observers retreated into their mind, into a place where no one could reach them, where they still had some independence. Their mind became their place of refuge, their strength, their sense of safety. They saw the world as unsafe and people as demanding and intrusive. The Observers keep quietly to themselves. They are very private, tending to keep different parts of their lives separate. They usually can only take socializing for short periods of time, because they need time to be alone to process what might have happened when they were with other people. Their home is their refuge.

Observers have a strong intellectual life. They often have special areas of knowledge and hobbies. Other people may interpret their withdrawn nature as rejection, but withdrawal makes the Observers feel safe. They tend to keep things simple to avoid hassles in their lives. In spite of their usually simple and modest lifestyle, they will spare no expense when it comes to an area of interest and expertise, such as camera equipment, computers, bicycling, or stereo equipment. They are extremely cautious, and don’t like doing new things they know nothing about. They feel safer if they research whatever it is they are going to do. They believe that if something could possibly go wrong, it actually will.

Observers are able to develop and grow when they are able to let go of the security of their mental life, when they let themselves feel emotion, when they learn to experience their body. They work through their fear of calamities. They begin to see that avoiding intrusion makes their loved ones feel left out. They grow by sharing their knowledge and stepping away from their fear of involvement.
Personality Type 6. The Safety Seeker
In the childhood of the Safety Seeker, there was either abuse or danger. The young Safety Seekers became vigilant, watching for any signs of danger to protect themselves. Safety Seekers have issues of doubt, insecurity and anxiety. They develop a habit of scanning their environment for danger. They have a slight paranoia about life based on their childhood experience. They can be suspicious, jumpy, act impulsively to avoid danger, or suddenly attack others for assumed wrongs. They can also withdraw, freeze up, or avoid others for fear of conflict.

On the positive side, they are very loyal once they know they can trust you. They are great troubleshooters on any job because they can see what might go wrong. They are use their minds well and have a great ability to put imagination to work. They are fair and follow the rules because this creates safety for everyone. They are sensitive, responsible and dependable.

Although they have a vivid imagination and well-developed minds, they have self-doubt. They don’t trust their own ability to make decisions, to discriminate, and to choose the safe route. They avoid conflict and may be withdrawn, but, when afraid, will sometimes lash out angrily

Growth comes when they get reality checks from other people, develop faith in themselves and focus on the positive, confident in their ability, knowing that they can cope and trusting life. When this happens, they become courageous.
Personality type 7. The Enthusiast
In the childhood of the Enthusiast, there was some sort of emotional neglect, but not necessarily intentional neglect. The Enthusiasts became self sufficient in getting what they needed at a young age. Now, they look out for themselves because they don’t believe anyone else will. This causes an anxiety-driven personality.

Many Enthusiasts are not aware of the anxiety that drives them. Enthusiasts are charming and sound positive. But they avoid conflict rather than meet it. They are visionaries and idealists, able to see and imagine the big picture. They inspire others. They never give up when motivated, being positive and able to see all the options. They are lively, fun, and full of energy.

The problem is that the Enthusiasts live in the future, never resting or appreciating what they have. Anticipation becomes a drug to them. They avoid the unpleasant things in life, focusing on the next interesting thing in front of them. Their fear of not having what they need causes them to grab impulsively They don’t take time to make wise choices, whether choosing food, a relationship, or a house. They fill up their schedule with many things to do, causing them to change scheduling often, fearing that they will not be satisfied. Enthusiasts focus on the next experience rather than on their relationships, so they hurt other people.

In the extreme, Enthusiasts become gluttons, not craving quantity, but craving many interesting experiences to fill their void. They may obsess about the future, planning and re-planning. The Enthusiasts grow by being willing to endure anxiety or disappointment, to develop commitments, to trust that the world will give them what they need. This can be done through meditation, by simply listening to their anxiety. Not having to take any action can be excruciating at first for the Enthusiast. They begin to see the value and beauty of the small, things in life. Eventually the Enthusiasts can calm down, move more slowly, take time to smell the roses, and stop avoiding life.
Personality Type 8. The Boss
In childhood, the Bosses learned that power is all that matters. They learned how to control others to get what they wanted. They got attention by taking control. The Bosses act as if life is a battle. When in battle, one does not feel fear, because it will disable you, so you deny it. If you are in warrior mode, you cannot let anyone see that you are weak, because they will take advantage of it. You project an image of fearlessness, which you have to believe yourself, in order to go out and meet the dangerous world. You believe you are invincible and that you are always right. To build your self-confidence, you deny your own fear and vulnerability and you deny part of your self.

At the same time, Bosses care deeply for the people they are close to, feeling and acting protective of anyone in their sphere. They can be generous to a fault. Yet, at the same time, they don’t see how they run right over other’s needs. They are very intuitive, and often pick up on subtleties that others miss. They make excellent leaders in the right situation. They have a great gusto for life, and enjoy it immensely, sometimes to excess. They are very direct communicators if they want to be. However they don’t believe the rules apply to them.

Bosses are bigger than life, because it gives them more control. They believe if they don’t, someone else will take control of them. Bosses use anger as part of their ability to take control. They are the authority figure, the one in charge, and they want to keep the upper hand. Bosses often scare other people.

Unchecked, the Bosses can become vengeful, and punish those who are in their way. They believe they must be on guard to survive, and therefore they must punish anyone who gets in their way. They become lustful, when their excess gusto for life is unrestricted.

The evolved Bosses grow in maturity when their self-serving power is transformed into concern for others towards a higher purpose. They learn to trust Life. They learn to relax their control and enjoy the simple act of Being. Bosses can grow into humility and become courageous enough to admit their weaknesses. The mature Boss becomes a calm presence, able to be aware of other’s needs as well as their own.
Personality Type 9. The Merger
In childhood, the young Merger is often lost in the shuffle of the family, ignored somewhat, neglected a little and overlooked. No one asks them what they think or feel, so Mergers don’t learn how to connect with their feelings and needs. Often, what they do say is ignored, so they learn to not rock the boat, to not say what they want. They learn to keep things in harmony for the family. They learn to get what they want in indirect ways, passive aggressively. Their attention becomes focused outside of themselves, on their environment, on the whole, rather than on themselves as individuals.

Mergers are generally easy going, friendly, and well liked since they understand everyone’s point of view. They can make good mediators because they see all sides to an argument. They avoid conflict at all costs because it feels dangerous to them, out of harmony. They tend to merge with their environment because they don’t know their own inner world. As a result of this, Mergers have a scattered focus. It is hard for them to find a reason to pick one thing, because they are not in touch with their own internal choices. Mergers are easily distracted. It is hard for them to make a plan and stick to it without structure, lists, and deadlines to guide them. They tend to forget things easily because they are not naturally focused. They find it difficult to make decisions and easy to procrastinate, since all choices look equal to them. They may express anger passive aggressively because of this fear of conflict. It can take them a while to form an opinion. When they DO have an opinion, they can be very stubborn about it, since it was hard to come by. It is difficult for them to know how they feel about something. They are easily swayed one way or the other.

In the extreme, the Mergers find it impossible to take action. They may become slothful from inactivity. What helps Mergers grow? Mergers grow by focusing on their own feelings, needs, wants, and opinions. They learn methods to help them set priorities and stay organized. They come to understand that avoidance creates more problems as things pile up, and people get disappointed. Conflict resolution skills allow them to handle disagreements more successfully. Ultimately, the mature Mergers learn to be self-aware and centered in themselves.

PLUS MINUS PERFECTIONIST TYPE




Perfeksionis, boleh dikatakan suatu sifat atau problem kejiwaan dalam diri manusia yang hampir selalu memiliki kesempurnaan. Bagi Anda yang memiliki sifat atau perilaku perfeksionis, terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan yang mungkin belum Anda ketahui. Berikut ciri-ciri orang perfeksionis :

  • Selalu bekerja dengan sepenuh hati dan totalitas
  • Berambisi untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan
  • Cenderung memaksakan diri untuk melakukan segalanya, walaupun sebenarnya sudah di luar batas kemampuannya
  • Mudah sekali kecewa, jika ada satu atau sedikit kekurangan saja, yang walaupun di mata orang lain biasa saja
  • Cenderung sulit untuk rela mendelegasikan tugas atau pekerjaannya kepada orang lain
  • Cenderung tidak mudah percaya atau terkadang meremehkan kemampuan orang lain
  • Mudah emosi dan sering egois

Sifat perfeksionis tidak selalu mengerjakan semuanya dengan sempurna dan juga bukanlah hal yang jelek, namun mungkin bisa sedikit dikurangi atau dikontrol agar tidak sampai merugikan orang lain. Untuk mengontrol sifat perfeksionis, mungkin Anda dapat melakukan hal berikut ini:

  • Refreshing dan lebih santai sehingga setiap masalah tidak selalu harus dihadapi dengan serius dan bermuka tegang. Anda bisa berbagi dengan kawan atau bersenda gurau, melontarkan humor ringan ketika Anda bergaul dengan orang lain. Atau jika Anda masih terbilang orang sibuk, Anda dapat sedikit bersantai dengan membaca buku humor atau film lucu. Atau mungkin Anda dapat pergi ke luar kota, atau mengikuti kegiatan lainnya di luar rumah.
  • Anda juga dapat bergabung dengan organisasi, perkumpulan anak muda, atau kelompok arisan, dan sebagainya untuk belajar mengenai pembagian kerja dalam kelompok, agar nantinya Anda tidak mudah untuk meremehkan kemampuan orang lain. Anda dapat mulai belajar untuk mempercayai kemampuan seseorang untuk membantu Anda, seperti meyakini kemampuan Anda.
  • Bersikap terbuka, baik saran atau kritikan, dan nasihat yang membangun. Jadikanlah saran dan kritik untuk membangun dan sebagai acuan produktivitas dan semangat kerja Anda, bukan sebagai alasan untuk merendahkan Anda.

Seseorang yang perfeksionis, cenderung untuk menginginkan semuanya berjalan sempurna dan untuk itu mereka harus melakukannya sendiri, dan akan terus berusaha hingga membuatnya tampak sempurna baginya, walaupun menurut orang lain, sudah baik dan masih dalam kondisi yang wajar. Untuk itu, diperlukan usaha yang berkelanjutan agar Anda dapat mengubah sedikit demi sedikit kepribadian perfeksionis, menjadi lebih baik.

====================================================================


Orang perfeksionis memandang segala sesuatu harus full jadi gak bisa ada sedikit kekurangan, kejelekan atau kesalahan. Repotnya kadang orang perfeksionis melihat orang lain dari sisi negative *karena gak sesuai dengan keinginannya*. Padahal gak semua yang ada dipikiran orang perfeksionis juga terpikirkan oleh orang lain. Tidak jarang orang perfeksionis menuntut orang lain jadi lebih baik tanpa sadar dirinya juga harus memperbaiki diri.

Orang perfeksionis cenderung egois, semua hal harus sesuai keinginan atau imajinasinya tanpa mau ngerti kondisi orang lain. Serta sering menuntut orang lain untuk mengikuti apa yang diinginkan. Terlalu detail bahkan hal2 kecil pun bisa jadi hal besar bagi orang perfeksionis sehingga sulit toleransi ke orang lain. Kesan yang paling menonjol dari orang perfeksionis adalah “semau gue”.

Tapi sisi positif dari orang perfeksionis adalah lebih teliti dalam melakukan sesuatu, malah sangat berhati2 bekerja *sampe kadang2 gak ada yang dilakukan karena terlalu banyak hal yang dipertimbangkan*. Orang perfeksionis takut akan kegagalan, sehingga total dalam bekerja *blm tentu utk hal lainnya* selain itu orang perfeksionis kreatif dan berpikir taktis.

=============================================================

Setiap karyawan pasti berharap memiliki pemimpin yang ideal. Atau setidaknya, mempunyai karakter yang mendekati pemimpin idaman. Secara psikologis, karyawan akan lebih senang bekerja untuk pemimpin yang memenuhi nilai-nilai subjektif tertentu, yang sesuai dengan keinginan mereka.

Namun, pada kenyataannya, karyawan seringkali tidak bisa memilih bos mereka. Beruntunglah karyawan yang mendapatkan bos berkriteria “baik”. Tapi, memiliki bos yang dikategorikan “buruk”, juga bukan berarti akhir dari segalanya.

Apakah Anda merasa tertekan dengan sikap bos yang selalu mengkritik hasil kerja Anda? Mungkin, maksud bos Anda baik. Dia memperhatikan setiap detail dan ingin hasil kerja Anda sempurna. Hanya saja, terkadang ada situasi yang membuat hal tersebut tidak memungkinkan untuk dilakukan.

Misalnya, saat deadline mendesak, tiba-tiba atasan Anda masih melakukan revisi. Bahkan, dia ingin merombak total pekerjaan yang sudah dikerjakan begitu lama. Memusingkan, bukan? Belum lagi, masih ditambah kritikan pedas yang cukup membuat panas telinga. Selain itu, Anda tidak leluasa bekerja karena selalu dipantau oleh sang bos yang menyimpan keraguan akan kemampuan Anda dalam mengerjakan pekerjaan tersebut.

Seorang yang perfeksionis ingin mengerjakan semuanya dengan sempurna. Dan, standar itu tidak hanya diterapkan pada dirinya, melainkan juga kepada orang lain. Jadi, ketika sesuatu tidak sempurna, maka sikapnya jadi negatif. Bahkan, jika suatu pekerjaan masih mendekati sempurna pun baginya tidak cukup.

Akibatnya, menutup peluang para staf dan pendukungnya untuk berkembang. Ketika bantuan staf benar-benar diperlukan, mereka tidak siap karena tidak pernah diberi kesempatan berlatih menerima tanggung jawab.

Sikap yang sering ditunjukkan seorang perfeksionis sebagai berikut:

•Sangat berkomitmen, bahkan sering berlebihan dan bisa mencapai terobsesi.
•Tidak suka mendelegasikan tugas bagi orang lain, atau kurang percaya pada kemampuan orang lain.
•Memiliki kesulitan untuk menghitung prioritas dengan sehat.
•Memiliki dorongan yang sangat besar untuk mengendalikan segala sesuatu.
•Berkompetisi dengan kuat, terdorong untuk menang dalam banyak hal, bahkan untuk hal-hal yang tidak berarti sekalipun.
•Memiliki standar yang sangat tinggi, bahkan cenderung tidak realistis.
•Sulit untuk fleksibel, cenderung kaku, dan menuntut orang lain dengan menggunakan standar yang tinggi.

Anda mungkin pernah merasa menjadi karyawan yang berhasil mencatatkan kinerja sempurna, mencapai target tinggi, namun tidak dinilai bagus oleh atasan. Atasan Anda ini mungkin termasuk kategori perfeksionis. Mereka beranggapan bahwa kinerja sempurna masih dapat dicapai, sehingga ia masih merasa tidak puas.

Masalahnya, mereka yang bertipe perfeksionis ini berpotensi mengakibatkan orang lain jadi tertekan untuk mengikuti standar sempurnanya. Oleh karena itu, Anda tidak perlu mengambil serius kata-katanya. Yang penting, Anda berhasil mencapai kinerja yang baik sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan, meskipun tidak sempurna.

Lelah dengan segala kritikan dan lantas menyerah. bukanlah solusi pintar untuk karir Anda. Memutuskan untuk pindah kerja karena satu masalah ini justru bisa membuat curriculum vitae (CV) Anda “cacat”. Periode kerja yang terlalu singkat seringkali membuat calon employer meragukan kompetensi Anda. Jika Anda tahu triknya, bekerja untuk bos yang perfeksionis malah bisa memberikan pengalaman dan keterampilan tersendiri.

Orang yang perfeksionis biasanya memiliki standar sendiri bagaimana pekerjaan harus dilakukan. Usahakan Anda mengerti kebiasaan dan parameter kerja sempurna si bos terhadap setiap jenis pekerjaan. Perhatikan dengan seksama arahan dan petunjuknya, buat catatan sebagai panduan. Jangan ragu bertanya agar Anda mendapat gambaran sejelas-jelasnya sehingga dapat memenuhi ekspektasinya.

Bos Anda tidak akan melewatkan kesalahan sekecil apapun. Cobalah berpikir seperti seorang perfeksionis. Dan, cari kelemahan atau poin yang rawan kritikan dalam pekerjaan Anda. Mengkritisi diri sendiri sangat dibutuhkan untuk meminimalisasi kesalahan.

Memiliki bos yang perfeksionis membuat Anda benar-benar harus perhatian terhadap detil. Hindari kesalahan remeh seperti salah ketik, ketidakrapian, informasi yang tidak akurat, dan sebagainya, yang akan memicu masalah lebih besar nantinya. Jangan lupa lakukan check and recheck untuk setiap pekerjaan, sebelum Anda menyerahkannya untuk direview.

Jika mengikuti emosi, bertahan dengan bos yang selalu menuntut memang terasa melelahkan dan menjengkelkan. Namun, sebaiknya Anda tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang personal. Malah, anggap saja kritikan tersebut sebagai cambukan untuk menghasilkan pekerjaan yang lebih baik. Lihatlah setiap kritikan sebagai cara belajar untuk jadi karyawan yang lebih baik.

Jangan tunggu si bos mencari-cari kesalahan Anda. Sebisa mungkin berikan informasi sebanyak-banyaknya sebelum diminta atau ditanyakan. Hal ini sekaligus dapat memberi kesan Anda mampu dan antusias mengerjakan pekerjaan tersebut. Sehingga, bos Anda akhirnya percaya pada Anda.

Kompromi dan menyesuaikan diri dengan sikap bos yang perfeksionis bukan berarti Anda harus menuruti keputusannya secara buta. Jika berulangkali sikapnya tidak konsisten, mulai menjurus kepada ambisi pribadi, dan sudah mengganggu ritme kerja lainnya, maka inilah saatnya Anda mengatakan bahwa revisi dan rombak sudah harus dihentikan. Kemukakan alasan yang logis dan masuk akal. Dan, sampaikanlah dengan sopan.

Bagaimana bila tugas telah selesai dikerjakan, namun dia mengotot ingin melakukan sejumlah perbaikan yang sebenarnya tidak terlalu penting, hingga malam sebelum deadline? Sah-sah saja bila Anda membiarkannya memuaskan obsesinya seorang diri. Selama tuntutan pekerjaan sudah dipenuhi, tidak ada alasan untuk ikut mencurahkan waktu dan tenaga terlampau banyak untuk satu tugas. Ingat, Anda masih punya tugas lain yang menanti esok hari.

Michael S. Dobson, penulis buku Working with Difficult People, menyatakan, kunci menghadapi si perfeksionis adalah melancarkan jalur komunikasi Anda dengannya. Ketika menerima pembagian tugas kerja, ambil waktu untuk memperjelas ekspektasi dari masing-masing pihak. Jika atasan ingin Anda melakukan sesuatu dengan cara tertentu, mintalah dia menuliskan langkahnya secara step by step di atas kertas, hingga Anda benar-benar mengerti apa yang ia maksudkan. Bukan yang terkuat akan bertahan, namun yang paling mampu menyesuaikanlah yang akan sukses.
=============================================================
Orang yang perfeksionis terkadang kurang disukai karena sulit bersikap fleksibel. Bagaimana mengenali si perfeksionis?

* Selalu ingin tampil prima
Orang yang perfeksionis selalu ingin tampil sempurna dalam berbagai hal, termasuk dalam penampilan. Ia paling tak tahan untuk tidak melirik kaca dan merapikan diri setiap kali ada kesempatan.

* Ingin jadi superior
Si perfeksionis tidak dapat dengan mudah mengakui kesalahannya di depan publik. Mereka amat peduli akan pendapat orang lain terhadap dirinya dan ingin selalu terlihat pintar dan superior.

* Hobi mengkritik
Seseorang yang berkepribadian perfeksionis gemar mengkritik orang-orang di sekitarnya. Jangan harap Anda bisa terlihat sempurna di depan matanya.

* Tidak bahagia
Meski terkesan sempurna, sebenarnya orang yang perfeksionis tidak bahagia dengan kehidupannya. Meski hanya sepersekian detik, Anda pasti bisa menemukan jejak itu di matanya.

* Terobsesi pada sesuatu
Pernah mendengar teman Anda bilang, "Saya paling tidak tahan melihat meja berantakan," atau "Saya tidak akan berhenti usaha sampai bisa memenangkan penghargaan karya tulis itu!"

Juri @Grand Indonesia




Disney glitz and glam grand indonesia....